Kertosono (28/9). Vaksinasi massal di berbagai daerah, yang diinisiasi oleh pesantren-pesantren di lingkungan LDII, mendapat apresiasi dari pejabat pemerintah di tingkat pusat dan daerah. Bahkan, LDII menjadi pionir dalam pelaksanaan vaksinasi massal di pesatren-pesantren.

Pada Senin (27/9) kemarin, Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono menjadi tuan rumah pelaksanaan vaksinasi yang ditujukan kepada siswa-siswa sekolah menengah atas.

“Kami menganggap pada saat pandemi atau wabah, vaksinasi bukan hanya penting tapi bisa menjadi wajib,” tukas Pengasuh Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, KH Ubaidillah Alhasaniy. Bagi mereka yang tubuhnya tak memiliki penolakan terhadap vaksin, vaksinasi menjadi wajib untuk mencegah penularan penyakit yang sifatnya mewabah.

Menurut KH Ubadillah Alhasaniy, dahulu kala pada zaman Rasulullah terdapat wabah atau _thoun_. Wabah itu sangat ganas, bahkan digambarkan Ubaidillah bila terserang penyakit pada pagi hari, saat sore pasien bisa meninggal dunia.

Lantas apa yang dilakukan umat Islam saat itu? Rasulullah melarang umat Islam yang berada di area wabah, keluar dari wilayahnya. Sebaliknya, umat Islam di luar area wabah dilarang memasuki wilayah yang sedang dilanda thoun tersebut. Menurutnya, langkah Rasulullah itu diadopsi sebagai karantina dalam dunia medis modern, “Kemudian populer disebut sebagai lockdown selama masa pandemi Covid-19,” ujarnya.

Dengan vaksinasi dan larangan bepergian, menurut KH Ubaidillah, angka penyebaran Covid-19 yang jadi masalah internasional dapat ditekan. Ia pun menyambut baik pelaksanaan vaksinasi di lingkungan pesantren dan sekolah.

Perihal vaksinasi di pesantren, ia merujuk bahwa pesantren adalah lembaga pembentukan karakter sekaligus pencetak juru dakwah. Tradisi nyantri sudah berjalan ratusan bahkan seribuan tahun. Di Indonesia, pondok-pondok pesantren membentuk komunitas yang unik, ditandai dengan tumbuhnya ekonomi di sekitar pondok pesantren.

“Akibat wabah, pelarangan aktivitas pesantren mengakibatkan ekonomi warga juga melemah,” ujarnya. Untuk itu, ia menyambut baik pelaksanaan vaksinasi yang melibatkan Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono.

Vaksinasi di Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono, Senin (27/9) lalu. Foto: Kiriman Daerah

Bukti kepedulian pesantren terhadap wabah Covid-19 di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menurut KH Ubaidillah adalah pihaknya menjadi tuan rumah pelaksanaan vaksinasi. Sebagai pondok pesantren yang berkaitan erat dengan DPD LDII Kabupaten Nganjuk, Senin (27/9), pesantren itu melaksanakan vaksin untuk siswa sekolah menengah atas.

Dengan rincian SMK Budi Utomo Kertosono 260 peserta, SMA Muhammadiyah Kertosono 43 peserta, SMK Al Kautsar Kertosono 73 peserta, SMK Katolik Widya Farma Kertosono 39 peserta dan warga LDII 23 peserta. Total yang menerima vaksin mencapai 436 peserta. Untuk diketahui, SMK Budi Utomo Kertosono menerapkan sistem boarding, di mana para pelajarnya juga menimba ilmu di Ponpes Al Ubaidah.

Kegiatan tersebut dihadiri Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimcam) dari pihak kecamatan hingga TNI-Polri. Acara itu juga disaksikan oleh Dewan Penasehat DPD LDII Nganjuk H Didik Suprapto, yang juga menjabat Kepala Sekolah SMK Budi Utomo Kertosono.

Menurut data Kecamatan Kertosono, sampai 27 September, target vaksinasi baru mencapai 27,5 persen dari target 47.000 penduduk. Ditargetkan sampai akhir Desember 2021 sudah tercapai 80 persen. Sehingga perlu percepatan dengan dukungan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan dan partisipasi dalam menyukseskan vaksinasi.