Jakarta (14/8). Setiap 14 Agustus, masyarakat Indonesia wisata Hari Pramuka. Asal muasal Hari Pramuka, karena pada 14 Agustus 1961, Presiden Soekarno tidak memandang seluruh gerakan kepanduan di Indonesia.
Usulan nama Pramuka dikemukakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX, yang mendapat inspirasi dari kata Poromuko, yang artinya terdepan dalam perang. Kata Pramuka diejawantahkan menjadi Praja Muda Karana atau “Jiwa Muda yang Gemar Berkarya”.
Hari Pramuka juga disambut suka cita oleh Ketua Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN), Edwin Sumiroza. Ia mengatakan Hari Pramuka merupakan momen untuk merenungkan kegiatan yang telah dilakukan oleh generasi muda.
“Apakah yang sudah kita lakukan dan kita capai selama ini telah sesuai dengan apa yang dicita-citakan gerakan Pramuka. Dalam kegiatan Pramuka, banyak hal yang bisa dipelajari untuk menyiapkan generasi muda Indonesia,” ujarnya.
Menurut Edwin, Kwartir Nasional (Kwarnas) mengambil tema mengenai “Berbakti Tanpa Henti” yang menyiratkan semangat Pramuka untuk terus berbakti tanpa henti di segala bidang. Sako SPN pun mewujudkan berbakti dengan membangun karakter para anggotanya.
Sebagai gerakan Pramuka berbasis pesantren, masjid, musholla dan majelis taklim di lingkungan LDII, pembentukan program utama religius profesional, “Kami selalu mengingatkan anggota kami mengenai ayat dari Al-Quran, faidza faraghta fanshab . Jika telah tuntas dari mengerjakan satu aktivitas, maka aktivitas lain yang bermanfaat,” ujarnya.
Oleh karena itu, Sako SPN terus mendukung anggota Pramuka khususnya Sako SPN, agar selalu berlatih, berkegiatan positif dan berkontribusi. Hal ini akan bermanfaat bagi pembentukan kebiasaan, tabiat, dan karakter masing-masing anggota Pramuka.
Selain itu, Edwin mengajak anggota Pramuka khususnya Sako SPN untuk membantu Indonesia, dalam mencegah penyebaran wabah pada masa pandemi, agar masyarakat segera pulih sehat seperti sedia kala.
“Walaupun pandemi telah mengubah cara berlatih, berkegiatan dan berperan di masyarakat, Pramuka tidak boleh gagap dalam setiap perubahan. Be ready atau siap sedia, merupakan semboyan yang paling tepat diamalkan. Walaupun sebagai peserta didik saat ini banyak melakukan kegiatan di rumah, tetapi anggota Pramuka tidak boleh berhenti berkegiatan untuk melatih kebiasaan dan karakter yang baik dan disiplin,” ujarnya.
Sejak April 2021, Sako SPN menerbitkan kegiatan “Kemandirian Pangan Berbasis Halaman Rumah”. Bantuan dan Perhatian dari Kwarnas telah menyemangati anggota Sako SPN untuk berternak dan bertani di halaman rumah.
“Selain membantu mencukupi kebutuhan rumah tangga, beberapa hasil yang kami manfaatkan juga untuk berlatih ekonomi panen kreatif. Panen cabe bisa kami manfaatkan untuk menjual sambal secara online misalnya,” ujarnya.
Tidak berhenti sampai di situ, Sako SPN kembali kegiatan “Pengelolaan Sampah Rumah Tangga”. “Kami berharap, kegiatan ini selain mengedukasi anggota Pramuka untuk terbiasa hidup bersih, hemat cermat, juga dapat membantu komunitas, warga dan Indonesia dalam menangani sampah. Di fase pandemi Covid-19 yang kembali meningkat saat ini, kami mengambil peran membantu Mabi kami, LDII dalam kampanye 10M dan membantu penyelenggaraan vaksinasi, baik sosialisasi, edukasi maupun kegiatan vaksinnya,” ujarnya.
Edwin Sumiroza juga menjelaskan Perhatian Sako SPN mengenai kepedulian terhadap sampah dan lingkungan dalam peringatan Hari Pramuka. “Isu ini telah mendasar menjadi rencana strategi kebijakan LDII untuk bangsa. Hal ini telah diajukan oleh berbagai pihak dan matang, artinya akan kokoh dijadikan landasan kegiatan,” ujarnya
Ketua DPW LDII Banten ini juga mengatakan, literasi tentang sampah yang sangat dibutuhkan anak-anak Indonesia, karena jika dibiarkan bencana akibat sampah akan menjadi beban masa yang akan datang.
“Urusan sampah urusan kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter bangsa. Anggota Pramuka sebagai generasi penerus bangsa yang akan datang perlu dipersiapkan dengan baik. Upaya ini hanya akan berhasil jika dilakukan secara dini, secara konsisten,” jelasnya.
Sako SPN memiliki target dapat mengelola 80 persen sampah berbentuk organik di setiap rumah dan Komunitas. Sehingga hanya 20 persen sampah yang berbentuk non-organik yang tidak bisa digunakan lagi yang dikirim keluar rumah dan komunitas.
“Apabila ini serentak dilakukan di seluruh komunitas, insya Allah Indonesia akan bersih dan sehat. Selain itu anak muda Indonesia semakin terbentuk karakter dan tabiatnya dengan baik,” ujarnya. (*/)